‘Melinda’, Primadona Baru Petani Kedokangabus Kabupaten Indramayu

Breaking News

koranpotensi.com – Indramayu

Mendengar nama Melinda, fokus kita pasti kepada nama seorang penyanyi wanita yang terkenal lewat lagu cukup populer bertitel ‘Cinta Satu Malam’.

Tetapi, Melinda di Kabupaten Indramayu jauh berbeda. ‘Melinda’ yang satu ini justru menjadi primadona petani. Ia adalah buah melon asal Indramayu yang disingkat para petani dengan sebutan ‘Melinda’ (Melon Indramayu).

Mengapa ‘Melinda’ menjadi primadona, sebab sepanjang musim tanam gadu baru lalu banyak petani di Kabupaten Indramayu memanfaatkan lahan mereka dengan beralih menananm melon.

Seperti yang dilakukan oleh petani di Desa Kedokangabus, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, ini. Mereka baru saja menikmati hasil panen melon jenis golden.

Meski sebatas uji coba, namun menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Ir Dasma Adiwijaya, melalui Ketua Harian KTNA, H Dasta, budidaya melon yang dilakukan petani menghasilkan panen melimpah.

Petani penggarap yang tergabung dalam Komunitas Sentra Melinda, kata dia, sebenarnya baru melakukan tahap uji coba budidaya melon jenis golden tersebut.

Namun hasilnya diluar dugaan. Melon golden hasil budidaya Komunitas Sentra Melinda memiliki kualitas lebih baik, buah benar-benar segar dengan rasa manis cenderung legit.

“Uji coba ini kami anggap berhasil. Ke depan, tentu akan kami kembangkan terus. Apalagi pemerintah desa Kedokangabus ikut memberikan dukungan,” kata dia, Selasa, 19 Oktober 2021.

Saat ini, imbuh Dasta, pemintaan melon golden cukup tinggi, yakni sekitar 2 ton per minggu. Namun karena terbatasnya jumlah hasil panen, permintaan sebesar itu belum dapat dipenuhi kelompoknya.

Oleh karenanya, ia berharap budidaya melon golden diperluas, melibatkan banyak petani agar bersedia beralih menanam melon golden.
“Lahan kami masih terbatas, jadi belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. Padahal permintaannya cukup tinggi,” imbuh Dasta.

Terkait harga, lanjut dia, saat ini melon tidak jauh berbeda dengan semangka, meski semangka sedikit lebih mahal. Disparitas harga ini ditangkap sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

“Harganya bagus dan peluang ekonomi bagi petani. Maka kalau lahan budidaya melon terus diperluas, setidaknya akan banyak melibatkan masyarakat, pengangguran terkurangi,” pungkasnya.*kacim

Share and Enjoy !

Shares

Facebook comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *